Awal Cerita
Bulan
April dimana awan dilangit sedang labil-labilnya membawa air untuk ditumpahkan
ke bumi Indonesia, Tiba – tiba saja saya mendapatkan tawaran dari kakak kelas
sayang untuk join ke gunung prau
bersama teman temannya.
Ira
adalah kakak kelas saya dari SMP yang sangat semangat tentang olahraga dan hal
hal menantang lainnya. Pada saat itu adalah hari dimana UTS untuk SMA saya,
tetai ada 3hari libur untuk kakak kelas sedangkan buat kelas 1 hanya 2 hari
libur. Singkat cerita saya pertama kali mendaki gunung dan itu hal baru buat
saya. Setelah saya pikir dengan sedikit serius saya memutuskan untuk bolos UTS
kimia padahal saya buta kimia sedangkan kalau saya ikut susulan itupun akan di
ruang guru, tanpa contekan, hp dan bantuan :’)
Menuju Gunung Prau
Karena
mayoritas dari team pendakian ini adalah pelajar, tentunya kami harus mencari
cara yang sesuai, maksudnya kami harus mendapatkan kendaraan yang tepat untuk
kantong pelajar. Dan untuk perjalanan ini kami menggunakan motor dengan bensin
patungan.
Tiket Masuk Gunung Prau
Terdapat
beberapa jalur untuk menuju Puncak Gunung Prau. Untuk pendakian ini kami
memilih jalur Dieng Wetan dengan alasan medan di jalur ini tidak terlalu berat
bagi pemula walau hal itu harus dibayar dengan waktu tempuh yang lebih lama
dibandingkan jalur Patak Banteng.
Tiket
masuk atau retribusi Gunung Prau via Dieng Wetan adalah Rp 4.000* per orang.
Tetapi
karna pada saat itu ramai akhirnya saya dan team memutuskan untuk tidak
melakukan restribusi (illegal) jangan
ditiruu !!!
Catatan Perjalanan Menuju Puncak Gunung Prau
Setelah
menikmati perjalanan lebih dari 8 jam dengan motor beat hitam orange karena di
jalan banyak endala. Mulai dari hujan, salah satu teman saya hampir kena
hipotermia.kami pun tiba di dieng jam 12 malam kurang lebih. Dieng, sebuah
dataran tinggi yang sangat dikenal sebagai daerah wisata yang memiliki tempat
cantik mulai dari kawah, telaga, candi, goa, dan bukit untuk melihat sunrise, semua
ada disini.
Setelah sampai, beres beres sebentar
kita langsung saja melangkah untuk mendaki Gunung Prau dengan keadaan gerimis
kecil.
Kanan kiri ladang kentang, eh tapi
kayaknya ini habis panen deh
Satu
jam perjalanan, kami istirahat dan mendirikan tenda untuk istirahat dan tidur
sebentar karna sudah tengah malam.
Pos Dua
Warna
terang mewarnai langit ketika kami mulai berjalan kembali dari Pos 2 menuju Pos
3. Ini adalah rute terberat karena jalur yang sangat menanjak, licin serta
harus hati – hati.
Sampai
di pos 3, kami istirahat cukup lama, karena kini medannya sudah terbuka sehingga
angina yang berhembus menyentuh badan sangat terasa sekali dinginnya, kami pun
mengeluarkan jaket untuk mengurangi rasa dingin. Dari Pos 3, kami turun
kemudian menanjak lagi. Setelah tanjakan tersebut maka sampailah kami di bukit
teletubbies namun karena sudah malam tidak nampak keindahannya.
Jalur
kini semakin bersahabat, memudahkan kami untuk terus melangkah. Akhirnya
setelah hampir 5 jam pendakian kami tiba di puncak Gunung Prau yang juga
merupakan camping ground bagi pendaki.
Segera
kami dirikan 2 tenda, setelah tenda berdiri kami mengeluarkan logistik untuk
dimasak menggunakan Trangia. Usai makan, kami masuk ke dalam tenda masing –
masing untuk istirahat lagipula saat itu angin malamnya sangat dingin jadi kami
tak kuat bertahan terlalu lama di luar tenda.
Sunrise di Puncak Gunung Prau
Meski
baru jam 04.30, suasana diluar sudah ramai. Para pendaki sedang mencari spot terbaik
untuk mendapatkan golden sunrise. Kami tak mau ketinggalan dengan
pendaki lainnya, kami pun mencari spot yang tidak begitu ramai.
Tetapi sayangnya pada waktu itu golden sunrise tidak muncul karna tebalnya
kabut dan masih terasa air jatuh dari atas.
Suasana Puncak Gunung Prau yang
selalu ramai meski saat itu musim hujan
Setelah
menunggu, akhirnya jam 07.15 sang mentari muncul memberikan cahayanya yang
hangat. Kami kurang beruntung karena mendapatkan cuaca yang tidak cukup cerah
di pagi itu. Akhirnya hasna dan ira masak – masak untuk sarapan.
Kembali Turun Via Jalur Kalilembu
Setelah
sarapan kami membereskan tenda dan sampah – sampah yang dihasilkan dari kemping
ini. Bukankah kita dihimbau untuk tidak meninggalkan apapun kecuali jejak?
jam 12.30
kami kembali turun, kali ini melewati Jalur Kalilembu. Jalur yang belum pernah
saya lewati sebelumnya. Jadi pada saat akan sampai di Pos 3, terdapat jalur
yang menurun ke kiri, ikuti terus jalur tersebut nantinya sampai di perkebunan
warga, setelah perkebunan maka akan sampai di pemukiman warga yang merupakan
Desa Kalilembu. Kembali turun via Kalilembu
Selamat tinggal Gunung Prau, semoga bisa
berjumpa kembali
Kembali ke Jogjakarta
Setelah
hujan reda kami bersama kelompok kembali ke Jogja tetapi sempat beristirahat
dan membersihkan diri. Dan jam 3 saya dan team sampai ke rumah saudara saya
untuk mampir sebentar, akhirnya jam 1 malam kami sampai di Bantul.
Tips Pendakian Gunung Prau
- Sebaiknya
pada saat mencharter mikrobus lakukan di luar terminal, sebab kalo di
dalam terminal maka harga yang ditawar adalah harga calo yang lebih mahal,
malah jika si calo itu tau kamu baru pertama kali kesana maka harganya
bisa “digetok”
- Gunung
Prau tidak memiliki sumber air sehingga harus membawa persediaan air yang
cukup agar tidak dehidrasi
- Siapkan
jas hujan, sebab di Dieng curah hujannya cukup tinggi terlebih jika sudah
masuk musim hujan dimana hampir selalu setelah jam 12 siang hujan deras.
BACA JUGA : asiknya negeri di atas awan lumajang
Oleh – oleh usai mendaki Gunung Prau
Di
sekitar basecamp Patak Banteng banyak toko – toko yang menjual manisan carica
yang merupakan oleh – oleh khas Dieng, untuk cup kecil dihargai Rp 3000*
sedangkan untuk cup medium Rp 5000*. Jadi setelah mendaki, kita bisa membeli
manisan carica tersebut untuk dijadikan buah tangan.
* harga sewaktu – waktu bisa berubah
* harga sewaktu – waktu bisa berubah
Sumber
: http://www.jelajahsumbar.com/mendaki-gunung-prau/
Komentar
Posting Komentar